SEJARAH ASAL USUL SUB SUKU DAYAK MAYAO
Suku Dayak Mayao merupakan sub- suku Dayak yang diami 7 kampung yang tersebar di Kecamatan Bonti dan 1 kampung di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau , Kalimantan Barat . Suku Dayak Mayao termasuk rumpun suku Dayak Bidayuh yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Sanggau , suku ini terdiri dari delapan buah kampung. Nama suku Dayak Mayao sendiri diambil berdasarkan letak geografis di daerah tersebut yang diambil dari sebuah nama Tembawang yaitu Tembawang Mayao yang berada di tepi sungai di daerah tersebut yaitu, sungai Mayao.
Menurut cerita yang dituturkan oleh Temenggung Bonua Mayao yaitu B.Ajon. Selain itu, suku dayak Mayao berasal dari Tampun Juah sekarang banyak masyarakat di wilayah Kabupaten Sanggau disebut dengan Tembawang Tampun Juah berada di Kampung Segumon, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Lokasi bekas perkampungan tua di tepi perbatasan Indonesia-Malaysia ini sangat legendaris. keberadaanya kerap disebut dalam berbagai cerita mengenai sejarah suku Dayak.
Berawal dari Tampun Juah, terjadilah migrasi penduduk ke berbagai tempat mudik yang menyediakan sungai sekayam untuk mencari tempat yang cocok tanam pinggiran kota dan lokasi berburu binatang hutan hingga sampailah mereka di tempat bernama Tampun Romun. Menurut Lukas Kibas dalam bukunya "Bidoih Mayao", Tampun Romun merupakan sebuah kampung yang masyarakatnya hidup rukun dan damai serta dipimpin oleh orang yang arif dan bijak sana. Adapun pemimpin tersebut yaitu Macan Gurang.
Dalam peradapannya di kampung Tampun Romun, terjadi mala petaka yang banyak memakan jiwa korban. Peristiwa tersebut berupa serangan penyakit sampar , sehingga membuat masyarakat di kampung tersebut berpindah ke beberapa wilayah seperti Jangkang, Sungai Ribun dan Seboman serta daerah lain di kalimantan. Kelompok di Sebomant yang berangkat dari Tampun Romun pada awal perjalanannya sekarang terletak di Gunung Sebemban.
Di Sebomant masyarakatnya hidup rukun dan damai. Di dalam masyarakatnya yang hidup rukun dan damai terselip kisah pilu yaitu mela petaka yang terjadi berupa lobor. Pada suatu masa hiduplah sebuah keluarga miskin di kampung tersebut, mereka tidak seperti kebanyakan orang di kampung tersebut yang mana hasil panen yang berlimpah serta hewan peliharaan yang banyak, karena keadaan yang seperti itu maka keluarga tersebut di kucilkan di kampung tersebut. Sehingga suatu ketika orang kampung mengadakan pesta gawai panen padi selama tujuh hari tujuh malam, tetapi satu kesalahan yang orang kampung buat yaitu tidak ikut mengundang keluarga Pawon, karena mendengar ada pesta di kampungnya pergilah sang cucu bernama pawon ke tempat keramaian tersebut

karena terjadi mala petaka tersebut maka keluarga pawon dan keluaga lain yang masih selamat dari lobor berpindah menemukan wilayah baru yang subur untuk bercocok tanam sehingga ada keluarga yang berpindah ke daerah yang disebut dengan ponongu dan Pawon bersama keluarganya pindah ke Tembawang Mayau yang terletak di tepi sungai mayau.
Akibat perpindahan ladang membuat penduduk Tembawang mayau berpindah ke :
1. Kerumai pindah Ke Kadak.
2. Ludang Pindah Kelompu Mayao
3. Seriban Pindah Ke Lanong.
Entiop;
1) Sebagian besar penduduk tetap tinggal di Entiop, dan
2) Sebagian penduduk Entiop pindah ke Pelaman Ronggan, dari pelaman ronggang karena ada mala petaka lalu pindah ke sengui dari sengui lalu pindah ke Engkayuk
5. Singkot Ke Sagu, dari sagu lalu ke Mbonge' dan dari embonge' pindah ke Upe
6. Sebayo Ke Rogawoont lalu pindah ke Mpant Muntuh, dari Mpant Muntuh pindah ke Tebilae, dari tebilai pindah ke Mpant Mongunt, dari Mpant mongunt pindah ke Kotip
Dari kotip sebagian penduduknya ada yang kembali pindah ke tebilai dan sebagian besar penduduk kotip tetap menetap di kotip sampai sekarang.
Sumber:
1. Temenggung Mayao : B. Ajon
2. Sekdes Upe
3. Toko Masyarakat Entiop, Kadak, Lanong, Engkayuk, Kotip dan Tebilai
0 comments:
Post a Comment