al segapuldes

Recent Post

Tuesday, 10 February 2026
SEJARAH SINGKAT DESA BALAI BELUNGAI KECAMATAN TOBA

SEJARAH SINGKAT DESA BALAI BELUNGAI KECAMATAN TOBA

Secara Historis Desa Balai Belungai merupakan Desa yang diresmikan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 353 Tahun 1987 pada tanggal 9 November 1987 yang dahulunya Desa Balai Belungai diambil berdasarkan penggabungan nama-nama kampung yang termasuk dalam wilayah administrasi Desa Balai Belungai ketika dilakukan pemekaran Desa lalu disetujui oleh pihak kecamtan dan Kabupaten sehingga terbentuklah Desa Balai Belungai

Wednesday, 27 April 2022
Kelebihan dan Kekurangan Avenza Map (GPS Ponsel)

Kelebihan dan Kekurangan Avenza Map (GPS Ponsel)

Avenza Map  adalah aplikasi Open Source yang tersedia di Playstore (Android) yang dapat diunduh & digunakan oleh siapa saja yang memiliki perangkat  Smartphone  Android. Bagi sebagian orang khususnya para tenaga lapangan yang banyak bergelut dengan GPS, masalah pengukuran, survei, serta pemetaan.Pasalnya,     


Adapun kekurangan dari  Avenza Map  ini adalah :  
  1. Peta dasar (PDF) merupakan format raster sehingga pecah saat di zoom
  2. Maksimal input peta dasar adalah 3 (tiga) untuk versi gratisan
  3. Tidak tersedia basemap bawaan seperti gambar Citra Satelit Online, seperti pada CarryMap dan Locus Map

Adapun fungsi/ kegunaan serta kelebihan dari Avenza Map ini dapat dibaca sebagai berikut :  

  1. Menginput peta dasar dengan format yang umum, yaitu PDF
  2. Membuat Titik/ Waypoint/ Marking Point
  3. Membuat Trayek (Jalur)
  4. Mengukur Jarak dan Luas
  5. Menghitung laju kecepatan
  6. Menghitung arah kompas
  7. Ringan untuk perangkat Android
  8. Gratis/tersedia versi tidak berbayar
  9. Berikut Aplikasi GPS Ponsel paling simpel dan ramah untuk digunakan oleh semua kalangan

Nah jadi menurut kami, Avenza Map ini merupakan aplikasi 'wajib' yang dimiliki di Ponsel Android kamu kalau kamu merupakan Tenaga Lapangan, Survey/Surveyor, Juru Ukur Pemetaan, dan lain sebagainya.  

Buat yang berminat menggunakannya, silahkan buat datanya dari ArcGIS, input ke  Smartphone . Buat yang bingung, silahkan ikuti video tutorial dibawah ini ya





Wednesday, 9 February 2022
Asal mula Desa Teraju Kecamatan Toba Kabupaten Sanggau

Asal mula Desa Teraju Kecamatan Toba Kabupaten Sanggau

Tepat tanggal 22 Juni 1966 kecamatan Toba diresmikan sebagai  kecamatan baru oleh gubenur Kalimantan barat YC Oevang Oeray di  Embuloh. Semula ibukota kecamatan Toba diusulkan dengan nama Embuloh, namun pada saat peresmian tiba, nama Embuloh diganti dengan nama Teraju. 

Nama Teraju sendiri diambil dari sebuah timbangan emas  (Tera) yang jatuh di sungai nek bengkong dan karena tidak bisa  ditemukan, akhirnya sungai tersebut diganti dengan nama Sungai  Teraju. Dengan terbentuknya Kampong Teraju menjadi desa dan

sebagai ibu kota kecamatan toba, yang merupakan desa droping atau
pengabungan desa dari beberapa kampung yang ada di Teraju yaitu
Kampung Teraju Barat, Kampung Teraju Timur, Kampung Mangkup,
Kampung Mungguk Pasir serta Kampung Nek Gajah dan masing-masing kampung di pimpin oleh kepala kampung.

Setelah diresmikannya Kecamatan Toba yang beribukota di Teraju,
semakin hari semakin ramai dikunjungi dan ditempati orang, hingga
saat ini dari penjuru nusantara. Sebelum menjadi desa yang defenitif, Teraju masih dengan sebutan Kampung, yang dipimpin oleh Kepala Kampung yaitu Tomenggung PH. Rasep Odi (Nek Uban). Tomenggung PH. Rasep Odi sendiri
merupakan Kepala Kampung yang pertama di pilih masyarakat
kampung Teraju dengan masa kepemimpinan dari tahun 1966 sd
1979. Setelah Tomenggung PH.Rasep Odi menjabat Kepal Kampung
digantikan oleh Uji Nahar dengan masa jabatan 1980 sd 1987, setelah
masa kepemimpinan Kepala Kampung oleh Uji Nahar, keluar surat
keputusan Gubenur Kepala Daerah Tingkat I Kalimatan Barat Nomor
353 Tahun 1987 tentang Penyatuan Desa Dalam Rangka Penataan
Kembali Desa di Kalimantan Barat tanggal 9 November 1987 oleh
Gubenur Soedjiman.

Dengan keluarnya surat keputusan gubenur tersebut, maka Kampung
Teraju yang dipimpin oleh kepala Kampung diubah menjadi dengan
desa Teraju dengan dipimpin oleh seorang kepala desa.
Kepala desa defenitif pertama desa Teraju dipimpin oleh
Alm.Darius Atek dengan masa jabatan tahun 1988 sd 1998, kepala
desa defenitif kedua adalah Alm. AKU G. Tharep L dengan masa jabatan
Tahun 1998 sd 2000, kepala desa yang ke tiga dipimpin oleh Livinus sebagai
Pj.Kepala Desa dengan masa jabatan 2001 sd 2003, kepala desa
defenitif yang ke empat dipimpin oleh H.Bambang S. dengan masa
jabatan 2003 sd 2014, kepala desa yang ke lima dipimpin oleh Patrisius
sebagai Pj. Kelapa Desa dengan masa jabatan 2015 sd 2016, dan kepala
desa defenitif yang ke enam dipimpin oleh Edoardus Ateng, S.Ag
dengan masa jabatan 2016 sd 2022.


Dari masa ke masa perkembangan dan kemajuan desa Teraju, baik
perkembangan kemajuan kependudukan dan infrastruktur begitu
pesat. Dan hinga saat ini per 31 Desember 2020 jumlah penduduk
desa Teraju 3.863 jiwa terdiri dari lakai-laki 2.034 jiwa dan perempuan
1.828 jiwa serta jumlah Kepala Keluarga 1.078 jiwa, denga trebagi
empat dusun dan dua puluh lima Rukun Tetangga, yaitu dusun Teraju
Barat, dusun Teraju Timur, dusun Mangkup dan dusun Mungguk Pasir,
Dengan luas wilayah 17.668 Ha.

Bentangan batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan desa
Lumut Kecamatan Toba, sebelah selatan berbatasan dengan desa
Bagan Asam Kecamatan Toba, sebelah timur berbatasan dengan desa
Balai Tinggi Kecamatan Meliau, sebelah barat berbatasan dengan desa
Kampung Baru Kecamatan Toba.

SEJARAH SINGKAT DESA BALAI INGIN

SEJARAH SINGKAT DESA BALAI INGIN

Asal mula terbentunya Desa Balai Ingin pada Tahun 1976 yang pada saat itu terdiri dari Enam kepala Kampung, di mana masing-masing kampung dikepalai oleh satu kepala kampung yang terdiri dari : Kampung Balai Ingin Hilir dikepalai oleh Bapak JAFRI, Kampung Balai Ingin Hulu di Kepalai oleh Bapak SUKRAN, Kampung Pagar Silok Dikepalai oleh Bapak MUSTAR, dan Kampung Entacak dikepalai oleh Bapak SELEMAN, Kampung Sembawang Peragong dikepalai oleh Bapak ALIM, Kampung Ambong Kersik dikepalai oleh Bapak PANGEH

Pada Tahun 1985 terjadi perubahan status Kampung Menjadi Desa dan pada Tahun 1987 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Barat Nomor 353 tentang Penghapusan, Penggabungan dan Pembentukan Desa. Maka pada tahun terjadi pengelompokan kembali desa.

Desa Balai Ingin salah Satu Desa yang jauh dari kecamatan ( ± 42 Km ), mayoritas penduduk Desa Balai Ingin adalah suku Dayak, Melayu. dan mayoritas Beragama Kristen, Katolik, Islam. 


Dari Keenam kepala kampung tersebut di atas membentuk suatu Desa dengan persatuan kepala kampung dengan nama Kampung Ingin yang diambil dari singkatan kata KI yaitu “ (K) Kampung (I) Ingin (KI) Kampung Ingin ) “ yang mana pada saat itu dikepalai oleh Bapak Daeng Mahmud. Selaku Kepala Desa pertama periode tahun 1976 sampai dengan tahun 1978.

Desa Balai Ingin terdiri atas Enam Dusun yaitu Dusun Balai Ingin Hilir, Dusun Balai Ingin Hulu, Dusun Pagar Silok, Dusun Sembawang Peragong, Dusun Ambong Kersik dan Dusun Entacak.

Wednesday, 6 October 2021
Dayak Taba

Dayak Taba

Dayak Taba  adalah salah satu subsuku Dayak yang umumnya bermukim di wilayah Kecamatan Balai Kecamatan Tayan Hulu , Tayan Hilir , Parindu , dan Kecamatan Meliau Kabupaten Sanggau . Kelompok masyarakat ini menyebut dirinya subsuku Dayak Taba. Menurut cerita para kepala desa kampung, nama tersebut didasarkan pada nama tembawang yang dulunya tempat  

kelompok ini

  1. kelompok ini
  2. kelompok ini
  3. Wilayah penyebaran subsuku Dayak Taba cukup luas. Subsuku ini menyebar di lima kecamatan sebagai berikut:
  4. Kecamatan Meliau, mereka terdapat di Kampung Mungguk Keladan, Melobok, Pintu Sepuluh, Sei
  5. Kecamatan Tayan Hilir, mereka ada di Kampung Keraci, Stengko, Kelempu, Sungai Jaman, Meranti, dan Jelimo, Titi Amang, Ambung Kersik;



Tuesday, 5 October 2021
SEJARAH ASAL USUL SUB SUKU DAYAK MAYAO

SEJARAH ASAL USUL SUB SUKU DAYAK MAYAO

Suku Dayak Mayao   merupakan sub- suku Dayak yang diami 7 kampung yang tersebar di Kecamatan  Bonti dan 1 kampung di Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat . Suku  Dayak Mayao   termasuk rumpun suku Dayak Bidayuh yang sebagian besar terdapat di Kabupaten Sanggau , suku ini terdiri dari delapan buah kampung. Nama suku Dayak Mayao sendiri diambil berdasarkan letak geografis di daerah tersebut yang diambil dari sebuah nama Tembawang yaitu Tembawang Mayao yang berada di tepi sungai di daerah tersebut yaitu, sungai  Mayao.

Menurut cerita yang dituturkan oleh Temenggung Bonua Mayao yaitu B.Ajon. Selain itu, suku dayak Mayao berasal dari Tampun Juah sekarang banyak masyarakat di wilayah Kabupaten Sanggau disebut dengan Tembawang Tampun Juah berada di Kampung Segumon, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Lokasi bekas perkampungan tua di tepi perbatasan Indonesia-Malaysia ini sangat legendaris. keberadaanya kerap disebut dalam berbagai cerita mengenai sejarah suku Dayak.

Berawal dari Tampun Juah, terjadilah migrasi penduduk ke berbagai tempat mudik yang menyediakan sungai sekayam untuk mencari tempat yang cocok tanam pinggiran kota dan lokasi berburu binatang hutan hingga sampailah mereka di tempat bernama Tampun Romun. Menurut  Lukas Kibas  dalam bukunya "Bidoih Mayao", Tampun Romun merupakan sebuah kampung yang masyarakatnya hidup rukun dan damai serta dipimpin oleh orang yang arif dan bijak sana. Adapun pemimpin tersebut yaitu Macan Gurang.

Dalam peradapannya di kampung Tampun Romun, terjadi mala petaka yang banyak memakan jiwa korban. Peristiwa tersebut berupa serangan penyakit sampar , sehingga membuat masyarakat di kampung tersebut berpindah ke beberapa wilayah seperti Jangkang, Sungai Ribun dan Seboman serta daerah lain di kalimantan. Kelompok di Sebomant yang berangkat dari Tampun Romun pada awal perjalanannya sekarang terletak di Gunung Sebemban.

Di Sebomant masyarakatnya hidup rukun dan damai. Di dalam masyarakatnya yang hidup rukun dan damai terselip kisah pilu yaitu mela petaka yang terjadi berupa lobor. Pada suatu masa hiduplah sebuah keluarga miskin di kampung tersebut, mereka tidak seperti kebanyakan orang di kampung tersebut yang mana hasil panen yang berlimpah serta hewan peliharaan yang banyak, karena keadaan yang seperti itu maka keluarga tersebut di kucilkan di kampung tersebut. Sehingga suatu ketika orang kampung mengadakan pesta gawai panen padi selama tujuh hari tujuh malam, tetapi satu kesalahan yang orang kampung buat yaitu tidak ikut mengundang keluarga Pawon, karena mendengar ada pesta di kampungnya pergilah sang cucu bernama pawon ke tempat keramaian tersebut

Sesampainya di sana kemeriahan yang dia dapat tetapi si cucu mendapat perlakuan yang kejam dari orang kampung, dicemooh dan diusir. Dengan perasaan sedih dia menemui neneknya dan menceritakan perlakuan-perlakuan orang kampung kepada neneknya. Sang nenek terenyuh mendengar cerita cucunya karena belas kasihan kepada cucunya lalu sang nenek menyuruh sang cucu kembali lagi ke kampung siapa tahu ada orang kampung yang masih memperhatikan perhatian mereka. Akhirnya sang cucu pun menuruti keinginan neneknya untuk kembali ke kampung tetapi apa yang terjadi perlakuan orang kampung sama seperti yang sudah-sudah malahan lebih kasar lagi layaknya seperti binatang dengan memberi si cucu tersebut dengan karet  (latek) yang menyerupai daging  yang rasanya hambar dan banyak. Si cucuk daging tersebut pulang kepada neneknya, sesampai di gubuk si cucuk menyerahkan daging pemerian orang kampung tersebut kepada neneknya dan nenek itu memakan daging pemerian si cucu tetapi daging tersebut banyak untuk dimakan dan setelah tahu bahwa daging pemerian dari orang kampung palsu maka murkalah sang nenek dan berkata "Celakalah orang kampung karena telah memperlakukan kita seperti binatang" geramnya. Lalu sang nenek menyuruh si cucu untuk pergi ke orang kampung dengan membawa anak kucing yang didandani layaknya manusia dengan sarung parang dipinggangnya dan menyuruh melepaskan anak kucing tersebut di tengah banyak orang. Si cucu pun mengikuti perintah sang nenek dan memainkan apa yang diperintahkan sang nenek si cucu melepaskan anak kucing tersebut ke tengah orang ramai dan ketika orang banyak tersebut melihat anak kucing tersebut sontak orang banyak tersebut meneriaki, mengolok, intimidasi, dan mencemooh anak kucing tersebut. 
Tak lama kemudian tiba-tiba langit berubah mendung dan gelap petir menyambar dimana-mana hujan batu pun turun seketika itu juga perkampungan tersebut berubah menjadi batu menyerupai sebuah bukit sehingga sekarang bukit tersebut diberi nama bukit sebomban.

karena terjadi mala petaka tersebut maka keluarga pawon dan keluaga lain yang masih selamat dari lobor berpindah menemukan wilayah baru yang subur untuk bercocok tanam sehingga ada keluarga yang berpindah ke daerah yang disebut dengan ponongu dan Pawon bersama keluarganya pindah ke Tembawang Mayau yang terletak di tepi sungai mayau.

Akibat perpindahan ladang membuat penduduk Tembawang mayau berpindah ke :

1.    Kerumai pindah Ke Kadak.

2.    Ludang Pindah Kelompu Mayao

3.    Seriban Pindah Ke Lanong.

Entiop;

1)     Sebagian besar penduduk tetap tinggal di Entiop, dan

2)     Sebagian penduduk Entiop pindah ke Pelaman Ronggan, dari pelaman ronggang karena ada mala petaka lalu pindah ke sengui dari sengui lalu pindah ke Engkayuk

5.    Singkot Ke Sagu, dari sagu lalu ke Mbonge' dan dari embonge' pindah ke Upe 

6.    Sebayo Ke Rogawoont lalu pindah ke Mpant Muntuh, dari Mpant Muntuh pindah ke Tebilae, dari tebilai pindah ke Mpant Mongunt, dari Mpant mongunt pindah ke Kotip         

Dari kotip sebagian penduduknya ada yang kembali pindah ke tebilai dan sebagian besar penduduk kotip tetap menetap di kotip sampai sekarang.

 

 

 

 





Sumber:

1. Temenggung Mayao : B. Ajon

2. Sekdes Upe

3. Toko Masyarakat Entiop, Kadak, Lanong, Engkayuk, Kotip dan Tebilai

 

Copyright © 2014 al segapuldes All Right Reserved