BURUNG BUBUT DAN BURUNG KUMOU (RUAI)

Posted by Labels: on
Pada Zaman dahulukala di hutan belantara Kalimantan hiduplah BURUNG KUMOU (RUAI), yang berasal dari manusia, dengan Nama DARA TELANGIK, DARA TELANGIK merupakan Putri Bungsu Seorang RAJA. Dara Telangik memiliki 7 (tujuh) orang Saudara, DARA TELANGIK dirubah oleh petapa sakti menjadi Burung KUMOU atau RUAI, dengan tujuan untuk membebaskan DARA TELANGIK dari Siksaan Saudara-saudaranya yang Jahat.

Meskipun berubah menjadi burung kumou (ruai), sifat-sifat manusia pada diri burung kumou (ruai) masih melekat, Hal ini dilihat karena burung kumou (ruai) dapat membuat Ladang Seperti Manusia, dan bersamaan juga dengan musim Ladang Manusia. Apabila kita pergi ke hutan belantara kita melihat, kemudian melihat tempat yang bersih kira-kira seluas tikar itulah yang disebut dengan LADANG BURUNG KUMOU ATAU MPURAT KUMOU ATAU RUAL. Selain dapat membuat ladang burung kumuu (ruai) juga memiliki keindahan bulu yang tidak dimiliki oleh burung lainnya.


Burung KUMOU (RUAI) dan Burung BUBUT Mereka adalah sahabat Baik dari sekian banyak jenis-jenis Burung yang ada dihutan belatara, Namun diantara keduanya, Burung kumulah yang sering mendapat pujian dari sesama burung karena memiliki corak bulu yang indah, Namun demikian burung bubut tidak pernah merasa tergangu dengan Perbedaan yang merka milikinya, karena waktu itu bulu burung bubut masih berwarna putih bersih.

antara bubut dan kumou (ruai) Persahabatan itu sangatlah erat, mereka saling mengingatkan dan menolong saat ada bahaya, suatu hari saat burung kumou (ruai) sedang tertidur ada ular yang berjalan ingin memangsanya, kemudian burung bubut berteriak, "Heiii burung kumou (ruai) cepat lari Ada Ular". kemudian dengan cepat burung kumou (ruai) lari dari terkaman ular tersebut, burung kumou sangat berterima kasih kepada burung bubut, Hingga suatu hari burung bubut jatuh sakit dan tidak mampu mencari makan bahkan hampir mati, kemudian datang burung kumou (ruai) berkata "kamu kenapa burung bubut?" dan burung bubut menjawab, "saya sebentar lagi akan mati terima kasih sudah menjadi sahabat terbaik saya" kata burung bubut, "Sudah tidak berbicara macam-macam saya akan merawat kamu sampai sembuh", kemudian datang burung kumou (ruai) membawakan makanan dan merawat burung bubut hingga sembuh, burung bubut sangat berterima kasih kepada burung kumuu (ruai), hari demi hari mereka lalui, bahkan mereka mencari makan bersama-sama layaknya sahabat sejati dalam kehidupan manusia, meraka juga saling menceritakan keluh kesah atau curhat jika ada permasalahan dan terjemahannya.


Hingga pada suatu hari bubut dan kumou (ruai) bersepakat untuk menghiasi bulu mereka secara bergiliran, mereka bersepakat bersama-sama untuk mencari pepohonan dan dedaunan hutan, setelah mendapatkan bahan yang dibutuhkan dan menempatkan di dahan pohon yang berbentuk cekung, setelah itu mereka berjanji bergiliran untuk saling membantu menarik bulu-bulu mereka satu sama lain, karena mereka tidak dapat mendandani diri masing-masing.
Burung Kumou (ruai) berkata kepada bubut, bagaimana jika saya mewarnai bulu kamu duluan, kemudian bubut menjawab, kamu saja yang saya warnai duluan, setelah saling melemparkan tawaran, akhirnya Burung kumou (ruai) mengiyakan bubut untuk menyentuh bulunya terlebih dahulu. Bubut berkata kepada Kumou (ruai)

Tolong jangan banyak bergerak ya, karena saya akan menyempurnakan bulu kamu, dengan teliti dan hati-hati bubut mewarnai dan memperindah bulu kumou (ruai) sampai selesai dengan sempurna.

Setelah beberapa saat warna-warna dari getah pohon dan daun mengering Akhirnya giliran Burung Bubut diwanai Oleh burung Kumou (ruai), Kumou (ruai) Berkata kepada bubut, apakah sudah siap? Tapi menjawab siap. Kumou (Ruai) mulai mewarnai bulu burung bubut hingga beberapa saat bulu burung bubut menjadi cantik, setelah melihat bulu burung bubut cantik akhirnya perasaan tersaingi di dalam hati burung kumou (ruai) mulai muncul, mengingat bahwa dialah burung yang selalu dipuji keindahannya oleh teman-temannya sesama burung dan mahluk hutan lainya.


Kemudian burung kumou (ruai) mencampurkan warna getah yang ada dan manusiampot atau menyemburkan pada bulu burung bubut, sehingga marahlah bubut dan sangat merasa kecewa terhadap sahabat sejolinya tersebut, karena telah membuat warna bulunya menjadi kehitaman, karena merasa tidak adil akhirnya penuh dengan rasa marah bubut Bersumpah, "Burung Kumou (Ruai) jika kamu terbang sampai ke dataran rendah Loba (bawas-bawas) dan tempat kerumunan kamu akan mati", dan dijawab oleh burung kumou (ruai) "jika kamu terbang ke Gunung dataran tinggi kamu juga akan mati" Dan Akhirnya setelah sekian lama persahabatan mereka berpisah, persabahabatan dan kebersamaan yang mereka bangun sirnah seketika, kebaikan-kebaikan yang pernah diberikan sahabatnya seakan tidak ada artinya lagi, kumou (ruai) sambil menangis pergi ke gunung dan bubut menyucurkan air mata hidup di dataran rendah. Apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur perbuatan sudah terlanjur dilaksanakan dan kata sudah terlanjur diucapkan.

Pesan moral yang ingin disampaikan jangan menyimpan rasa ego dan tamak di dalam perbedaan hidup bersama, seperti perbuatan burung kumuu (ruai) yang akan merugikan diri sendri, di dalam perbedaan jangan sampai melakukan atau menjaminkan sesuatu yang akan menyulitkan kita dan membuat menyesal di kemudian hari. Begitu juga kita dalam bermasyarakat dengan berbagai keberagaman yang ada, Tanamlah toleransi dalam perbedaan.


Post a Comment

Back to Top