Namun sayangnya selama sepuluh tahun menikah mereka belum juga dikarunia seorang anak, mereka berpikir apalah arti sebuah rumah tangga dan hidup dengan kemewahan tanpa hadirnya seorang anak yang nantinya menjadi penerus keturunan dan pewaris dari harta yang mereka miliki, banyak usaha yang meraka lakukan supaya mereka bisa mendapatkan keturunan mulai dari berobat dengan orang pintar sampai dengan melakukan ritual niat kepada para leluhur namun, usaha mereka tidak pernah membuahkan hasil.
Pada suatu malam saat sepasang suami istri itu sedang tidur terjadilah sebuah keajaiban sang istri mimpi mendapat petuah dari seorang kakek-kakek bahwa dirinya telah mengandung seorang anak, sehingga membuat sang istri terbagun dari tidurnya dan merasa penasaran megenai mimpi yang dialaminya tadi, sang istri sungguh tidak sabar menceritakan mimpinya kepada sang suami.
Keesokan paginya saat sang suami tengah duduk bersantai menikmati air hangat gula merah dan ubi rebus sang istri lalu menghampirinya, untuk menceritakan mimpi yang dialaminya tadi malam, "suami ku.... ada yang mau aku bicarakan kepada mu" "Ada apa istriku...?? nampaknya, ada hal yang sangat penting yang ingin kau katakan" tanya sang suami dengan perasaan penasaran. "Oh....suami ku, aku juga tidak mengerti apakah ini hanya bunga tidur atau sebuah keajaiban" lalu sang istri menceritakan mengenai mimpi yang dialaminya, sang suami dengan serius menanggapi mimpi yang tengah dialami sang istri, dan untuk membuktikan kebenaranya sepasang suami istri itu memutuskan untuk pergi kedukun beranak yang tinggal dikampung sebelah untuk memeriksa sang istri, Dan setelah diperiksa oleh dukun ternyata benar sang istri sedang mengandung, mendengar kabar itu alangkah senangnya hati sepasang suami istri itu karena, keiginan mereka untuk memiliki seorang anak akhirnya terkabul.
Lalu sebagai ujud rasa syukur mereka kepada jubata mereka pun mengadakan sebuah acara ganjur yang berlangsung selama tiga hari, tiga malam. Dengan mengundang seluruh penduduk kampung setempat sampai penduduk kampung sebelah sehingga membuat acara ganjur itu semakin bertambah meriah.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan kandungan sang istri semakin besar sehingga sang suami berencana bahwa ia harus pergi kehutan untuk mencari pohon "MUYU" pohon kayu muyu sendiri adalah tumbuhan hutan yang jika kulit dibakar akan menghasilkan bau yang sangat harum, dimana menurut kepercayaan suku dayak mali dengan membakar muyu akan menghindarkan perempuan yang baru melahirkan dan bayinyar dari gangguan kuntilanak dan makhluk halus lainnya.
Pada suatu pagi yang sangat cerah dimana pagi itu sang suami memutuskan untuk berangkat mencari pohon muyu, setelah menyiapkan segela perlengkapan dan bekal untuk perjalanan memasuki hutan sang suami pun pamit kepada sang istri "Istriku... aku akan berangkat kehutan, aku harap kamu jaga diri kamu baik-baik" pesan sang suami "Suami ku...aku pasti akan baik-baik saja, kau juga harus jaga diri mu baik-baik suami ku..." jawab sang istri "Baik lah istri ku, aku akan berangkat" lalu sambil membawa segela perlengkapannya sang sumi berangkat memulai perjalanan memasuki hutan, sementara sang istri melepaskan kepergian sang suami dengan menatap sang suami.
Setelah berhari-hari menjelajahi hutan naik turun bukit, melalui semak-semak hutan dan melewati pohon-pohon besar tibalah sang suami dimana tempat pohon muyu itu tumbuh, "Emmm....ini dia pohon muyu yang aku cari" gumam sang suami, tanpa menunggu lama sang suami lalu mengambil pohon muyu itu dan dimasukannya kedalam kerigai atau jarai disusunnya dengan rapi, setelah selesai mengemaskan pohon muyu itu dan sebelum melajutkan perjalan pulang kerumah sang suami pun beristrirahat sejenak sambil menyantap bekal makanan yang dibawanya, kemudian setelah selesai makan dan merasa tenaganya kembali pulih sang suami memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya pulang kerumah dengan membawa batang-batang muyu yang tersusun rapi didalam jarainya, segera ia mempercepat langkahnya karena ia teringat akan keadaan sang istri yang sedang hamil, saat ia tengah melakukan perjalanan tiba-tiba turun hujan panas dan dimana menuerut kepercayaan dayak mali jika hujan panas turun saat dalam perjalanan mereka harus menyelipkan daun ilalang didekat telinganya begitu pun hal yang dilakukan sang suami setelah menemukan ilalang diselipkan ditelinganya sambil mengatakan "usah nyacok jukat ken't abak ken't dah timok malang'k" yang artinya "jangan ganggu saya kepala saya sudah tumbuh ilalang" setelah itu sang suami memutus kan untuk berteduh dibawah daun sesei atau daun palma, saat dirinya sedang berteduh tiba-tiba sang suami dikejutkan dengan suara seorang kakek-kakek yang tidak tau dari mana asal suaranya "yaiii.....ohh yai..." ayai adalah panggilan khusus untuk anak laki-laki dalam bahasa dayak mali "yaiii...capat pulang yai istri mu sudah melahirkan, tapi ingat yai saat umur anak kalian sudah 17 tahun, anak kalian dititahkan mati dimakan buaya" mendengar pernyataan dari suara yang tak tau dari mana sumbernya itu alangkah kaget sang suami lalu tanpa menghiraukankan suara itu sang suami segera mempercepat langkahnya untuk pulang kerumah, setelah naik turun bukit, melewati semak-semak hutan, sampai lah sang suami dirumah, setibanya dirumah ternyata benar sang istri telah melahirkan seorang anak perempuan, ada perasaan senang bercampur sedih setelah mendengar suara yang didengarnya dihutan tadi lalau sang suami mencerirtakan tetang suara yang didengarnya dihutan kepada sang istri, sang istri langsung kaget dan sedih mendengar cerita sang suami, mereka tidak rela harus kehilangan anak satu-satunya. Lalu suami istri itu berencana untuk pindah kebukit yang jauh dari sungai karena memang kampung tempat mereka tinggal dekat dengan sungai, mereka berpikir dengan tinggal dibukit yang jauh dari sungai anak mereka akan selamat dan tidak akan mati dimakan buaya, mereka tidak tau kalau manusia tidak akan pernah bisa lari dari dari penitah atau takdir.
Kemudian setelah anaknya mereka berumur 14 hari, suami istri ini pun membawa sang anak pindah kebukit sesuai dengan rencana mereka, suami istri ini meminta bantuan penduduk kampung untuk membuat sebuah rumah dan mengangkut harta benda mereka tepatnya 2 hari sebelum mereka pindah. Dibukit itulah suami istri dan sang anak memulai kehidupan baru melewati hari-hari yang penuh dengan kebahgiaan, hari demi hari, tahun demi tahun berlalu sang anak kini tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik anak gadis yang cantik itu mereka beri nama "Dara pale", dara pale memiliki kebiasaan bermain sapek, dia juga rajin membantu sang ibu dirumah seperti masak, bersih-bersih halaman rumah dan mencuci hal itu membuat kedua orang tuanya semakin menyangi dara pale.
Pada suatu suatu malam dara pale meminta sang ayah untuk membuat sebuah pancuran agar dia dan sang ibu lebih mudah mengambil air untuk keperluan rumah dan untuk mandi, "ayah.....boleh kah saya meminta sesuatu pada ayah...??? tanya dara pale kepada sang ayah "Oh...tentu anak ku, apa yang kamu inginkan...??? jawab sang ayah "benarkah ayah, saya minta dibuatkan sebuah pancuran agar saya dan ibu lebih mudah mengambil air" sang ayah lalu menjawab "itu gampang anak ku, besok ayah akan membuatkan mu sebuah pancuran sekarang tidurlah nak hari sudah malam" "terimakasih ayah, baiklah saya akan tidur" jawab dara pale lalu beranjak pergi untuk tidur.
Keesokan paginya sang ayah mulai berkerja membuatkan sebuah pancuran dari batang bambu betung untuk sidara pale, sang ayah juga menyiapkan sebuah gayung dari tempurung kelapa sementara itu sidara pale sangat senang melihat pancuran yang diinginkannya telah jadi dibuatkan oleh sang ayah, setiap hari sidara pale menghabiskan hari-harinya bermain sape'k didekat pancuran itu ia tidak menyadari suatu keanehan yang terjadi, dimana tepatnya air pancuran itu jatuh semakin hari semakin membesar awalnya membentuk kolam lalu lama kelamaan makin besar dan membentuk sebuah teluk yang sangat dalam.
Sidara pale makin bertambah suka melihat teluk itu sementara kedua orang tuanya pun tidak menghiraukan kejadian aneh itu, pada suatu ketika saat sidara pale sedang mandi didekat teluk itu tiba-tiba kaki dara pale tersangkut sesuatu didalam air lalu dia berteriak memanggil orang tuanya "ayahhhh....ibuuu kaki saya tersangkut" tapi orang tuanya tidak mendengar, lalu sidara pale semakin berterik memanggil orang tuanya "ayahhhh...ibuu....kaki saya tersangkut" saat sidara pale sedang sibuk memanggil orang tuanya ia tidak menyadari ada seekor buaya yang siap menerkamnya dan tidak menunggu lama lagi buaya itu lalu merkam sidara pale, dara pale berteriak menagis kesakitan meminta tolong kepada ayah dan ibunya "ayah....ibuuuuuu tolong saya tolonggggg....." baru lah ayah dan ibunya datang mereka sangat kaget menyaksikan kejadian itu mereka lupa bahwa hari itu sang anak berusia tepat 17 tahun "anak ku....dara pale" teriak sang ibu sambil menagis, begitu juga sang ayah "anak kuuu..." sambil berusaha menolong sidara pale namun usahanya gagal, sidara pale sudah tidak bernyawa lagi tubunya penuh dengan luka bekas gigitan buaya ganas itu dan pada akhirnya seluruh tubuh dara pale habis ditelah oleh buaya
Ternyata buaya itu adalah jelmaan dari sapek sidara pale sendiri sedangkan yang membuat air itu berubah menjadi sebuah teluk besar dan dalam adalah jelmaan dari gayung tempurung kelapa yang berubah menjadi labi-labi, labi-labi ini lah yang mengerogoti tanah sehingga membentuk sebuah teluk.