asal usul Desa Penyalimau kecamatan Kapuas

Posted by Labels: on
Sejarah ini bermula ketika penduduk Tampun Juah waktu itu mendapat wabah dan bencana berupa teror dari para Dedemit/sebangsa Lelembut atau mahluk gaib, Pada waktu itu muncul semacam bencana yang aneh, kampung mereka diserbu oleh ribuan kodok. Dimana-mana terdapat kodok, bahkan sampai naik kerumah-rumah, memasuki tempat tidur dan dapur. Singkatnya memenuhi rumah mereka, setelah wabah ini mereda, kemudian muncul wabah baru yaitu kampung tiba-tiba dipenuhi oleh kotoran (sejenis kotoran manusia) sehingga menimbulkan bau busuk yang tidak sedap dan menjijikan dan tidak hanya berhenti disitu, sasaran teror para bangsa Lelembut berikutnya adalah makanan penduduk Tampun Juah. Dimana makanan para penduduk menjadi basi, berbau busuk, berbelatung, ada cacing dan terdpat tinja/peses tercampur didalamnya.

Disaat penduduk mau makan (bersantap) selalu ada ditemukan hal-hal ganjil yang menjijikan seperti itu, alhasil penduduk Tampun Juah merasa tidak mampu bertahan menghadapi teror tersebut, dan akhirnya mereka sepakat untuk berpindah dan menyebar ke berbagai tempat yang dianggap aman dan tentunya lebih baik (terbebas dari serangan teror) gaib tersebut.

Peristiwa ini tidak ada yang tahu pasti tanggal, bulan dan tahun kejadiannya, inilah sekelumit kisah yang melatar belakangi kepindahan penduduk Tampun Juah dan merupakan cikal bakal penduduk asli Desa Penyalimau. Sebagian dari penduduk tersebut menyusuri sungai Sekayan, singgah disuatu wilayah dan menetap disana, wilayah baru yang ditempati itu bernama Kambong dan Borang, disanalah dimulai kehidupan dan aktifitas baru pasca kepindahan mereka dari daerah asalnya, singkat cerita karena semakin berkembangnya jumlah penduduk disitu, maka sebagian diantara penduduk tersebut berkeinginan mencari daerah baru, kehidupan baru dan tantangan hidup. Maka tiba saatnya, berangkatlah mereka serombongan penduduk terebut menyusuri sungai Sekayam kearah hilir sampai sungai Kapuas lalu menyusuri sungai Kapuas dan menurut sumber yang penulis dapat dan himpun, sebagian dari dari masyarakat itu singgah dan menetap diwilayah-wilayah sekitar bantaran sungai Kapuas diantaranya Sungai Oba, Lintang Kapuas, Jonti, Sungai Kodang dan sebagian lagi meneruskan pengembaraannya dan sampailah disuatu wilayah/tempat yang dinamakan "Mungguk Joloat" yang sekarang tempat tersebut berada diwilayah dusun Sungai Kunyit Luar Kedesaan Sungai Alai.

Merekapun tinggal dan menetap disitu, mendrikan ompu'/perkampungan kecil, berkehidupan dan beranak pinak disana serta ditempati selama puluhan tahun lamanya. Sejumlah kecil rombongan masyarakat adat/sub suku ini pada awal diperkirakn hanya kurang lebih belasan KK, saat kedatangan kali pertama mereka disitu dan dipimpin (dibawa) oleh tetua masyarakat yang bernama Congae dan tiba ditempat itu sekitar 250 tahun yang lampau. Dari situ warga pindah lagi kearah hilir menyusuri sungai kapuas dan tiba ditempat yang baru yang menjadi tujuan mereka, tempat itu bernama SOMPAYA', disana mereka kembali membuat ompu'(kampung), menetap dan berkehidupan disitu selama puluhan tahun.

Mungkin dirasa ada ketidak cocokan dengan kampung dan tempat tinggal tersebut maka, mereka pun melakukan perpindahan lagi, kali ini warga mengarah mudik ke hulu tiba ditempat baru yang bernama "Polimao Icik" (Penyalimau Hilir sekarang) karena dirasa cocok untuk dijadikan tempat pemukiman mereka pun kembali mambuat ompu' (kampung) disitu, berkembang beranak-pinak disitu.

Ada semacam kebiasaan masyarakat (suku ini) yakni gemar bercocok tanam aneka pohon buah-buahan dengan harapan anak cucu kelak tidak akan kesulitan dan kekurangan buah-buahan.

Dikala Itu zaman penjajahan bangsa Kolonial Belanda, dan masih kuatnya tradisi masyarakat suku dayak yang sering melakukan serang-menyerang antar suku, yang dikenal dengan istilah "TRADISI NGAYAO", dan untuk menjaga kemungkinan yang buruk menimpa kampung dan warganya sehingga mereka bersepakat untuk berpindah kampung dan tempat tinggal lagi, mereka menelusuri dan masuk kedalam sebuah sungai yang disebut "Sungi Polimao" (sungai Penyalimau), disana warga menemukan tempat yang dirasa tepat dan sesuai kriteria mereka, maka ompu' (kampung) segera kembali dibangun untuk hunian baru tempat mereka mendirikan ompu' yang baru itu bernama "Pongkalatn Lingkekng". Karena ada satu dan lain hal, setelah puluhan tahun lamanya ditempati ompu'(kampung) yang berada di Pongkalatn Lingkekng tersebut pun akhirnya ditinggalkan, warga bersepakat pindah lagi kearah Nongu sungi Polimao (muara sungai Penyalimau) dan ompu' Doih, ada 2 (dua) tumpuk (komplek) pemukiman warga, yang pertama disekitar muara sungai penyalimau dan yang kedua sedikit kearah darat, yang oleh masyarakat Pompak'ng (Darat adalah Doih) maka ompu' yang letaknya sedikit kedarat itu disebut Ompu' Doih, pada waktu itu warga sering mengeluh kehilangan hewan ternaknya terutama babi, karena dimangsa oleh buaya, dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diingini terutama anak-anak yang mandi dan bermain disungai takut disambar buaya, maka warga pun sepakat pindah lagi. Nah pada saat pindah yang kesekian kalinya ini, Sebagian diantaranya. memilih pindah kembali ke bekas ompu' (kampung) Polimao Icik yang sudah ditinggalkan selama puluhan tahun dan kini sudah menjadi tembawang buah-buahan, diawal disampaikan kebiasaan warga suka bertanam pohon buah-buahan. Dan warga yang memilih kembali kesana diperkirakan sekitar belasan KK. Mereka menempati dan mendirikan ompu' (kampung) disitu, sesuai dengan ciri dan keadaan tempat yang merupakan tembawang buah, maka ompu'(kampung) tersebut dinamakan "Ompu' Tomawakng" (Kampung Tembawang) yang kini dikenal dengn sebutan Penyalimau Hilir. Kembali kepembahasan awal, kini warga ompu'(kampung) ini terbagi menjadi 2 (dua) kelompok. Satu kelompok warga memilih pindah kembali ke ompu'(kampung) Polimao Icik (ompu' Tomawakng), sementara sebagian besar memilih pindah ketempat baru masuk kembali kedalam Sungi Polimao, sesual nama sungainya, ompu' yang baru tersebut dinamakan "Ompu' Polimao Dalapm" (Kampung Penyalimau Dalam) tepatnya berada diseberang bekas

kampung Pongkalatn Lingkekng. Pada tahun 1957, warga yang berada di ompu' (kampung) Penyalimau Dalam memilih pindah kembali ke bekas kampung di "Nongu Sungi Polimao"( Muara Sungai Penyalimau). Alasan kepindahan kali ini dikarenakan kampung Penyalimau Dalam dilanda wabah penyakit, banyak warga yang meninggal terutama anak-anak. Tiap hari ada terjadi kematian bahkan terkadang dalam hitungan jam. Sesuai dengan posisi letak kampung tersebut berada disebelah hulu muara sungai Penyalimau sehingga kampung tersebut diberi nama ompu" "Polimao Soju" (Penyalimau Hulu) yang sekarang ini menjadi Dusun Penyalimau Hulu Desa Penyalimau sampai saat ini.
Post a Comment

Back to Top