Nama kampung Layau ini diambil dari nama sungai, yaitu Sungai Layau. Masyarakat kampung Layau, berasal dari kampung Sum di Desa Bantai Kecamatan Bonti. Dari kampung Sum ini ada 3 keluarga yang pindah dan menetap di Tembawang Cempedak Hilir. Tembawang ini sekarang berada di tepi Sungai Kandot. Pada awalnya kampung Cempedak Hilir ini masuk dalam wilayah kecamatan Tayan Hilir. Dalam sejarahnya Kampung Cempedak Hilir ini dahulunya selalu diserang oleh masyarakat dayak Ribun, sehingga terjadi perkawinan dan berubah menjadi sub suku dayak Ribun. Sekitar tahun 1965-an dengan dibukanya jalan raya Sanggau -ke Pontianak, masyarakat dari kampung Cempedak ini pindah ke jalan raya tersebut. Kemudian ketika Parindu menjadi kecamatan, maka kampung Layau ini menjadi wilayah administrasi Kecamatan Parindu.
Dusun Mundun terdiri 2 pemukiman yaitu Mundun dan Pejugan. Setiap kampung mempunyai sejarahnya tersendiri. Nama kampung Mundun ini diambil dari nama tanaman atau pohon hutan yang banyak tumbuh di lokasi pemukiman tersebut yaitu pohon mundun. Kampung Mundun, penduduknya berasal dari daerah yang bernama kampung Kuang (ada 6 keluarga) dan kampung Empuk Soju (ada 6 keluarga), dimana ke-2 kelompok masyarakat ini bergabung membuat kampung atau pemukiman di lokasi tembawang Pundok. Sekitar tahun 1970-an dengan adanya rintisan pembukaan jalan dari Layau ke desa Gunam, sebagian penduduk atau masyarakat di tembawang Pundok pindah ke tepi rencana jalan tersebut, sehingga pemukiman baru ini diberi nama kampung Rentes. Kemudian setelah jalan tersebut dibuka sehingga semua penduduk tembawang Pundok pindah di jalan baru tersebut dan berubah nama kampung dari kampung Rentes menjadi kampung Mundun. Dengan adanya jalan dari Layau ke desa Gunam, juga mendorong masyarakat dari kampung tembawang Lalong pindah dan membuat pemukiman di tepi jalan tersebut, nama kampungnya diberi nama Pejugan, yang asal naınanya pohon Penjugan, karena pohon pejugan ini yang paling banyak tumbuh di daerah tersebut. Kemudian kampung Mundun dan Pejugan menjadi satu dusun yaitu dusun Mundun.
Masyarakat asli dusun Amang adalah suku dayak Ribun. Nama kampung Amang diambil dari nama pohon kayu yaitu Kayu Amang. Pada zaman penjajahan Belanda, kampung Amang ini bernama Empolas, yang artinya memperhalus kayu, pada awalnya hanya pelaman arang-orang Ribun yang berladang berpindah. Kemudian pada zaman penjajahan Jepang, yaitu sekitar tahun 1944, pelaman-pelaman masyarakat ini bermukim menjadi satu tempat, sehingga berdirilah kampung Amang. Pada awal pendirikan kampung Amang, penduduknya hanya 20 keluarga. Sekitar tahun 1960-an, kampung Amang menjadi desa gaya lama yang bernama Kampung Amang. Selanjutnya pada tahun 1970-an berubah menjadi desa, sehingga kampung Amang menjadi dusun dari desa Palem Jaya. Dengan semakin bertambahnya penduduk, dimana pada tahun 2014 ini ada sebanyak 1.050 jiwa atau 289 kepala keluarga, sehingg pada awal tahun 2014, masyarakat dusun Amang mengusulkan Dusun Amang dimekarkan menjadi 2 dusun yaitu dusun Amang dan Amang Kiara. Rencana di akhir bulan November 2014 ini akan ada pemilihan kepala dusun untuk ke-2 dusun tersebut.
Nama kampung Empawek berasal dari nama tembawang, yaitu tembawang Empawek. Penduduk asli kampung Empawek ada sub suku daya Ribun yang berasal dari kampung Baharu yaitu di Tembawang Tibuh dan ada sebagian masyarakatnya dari Tembawang Posa. Pemukiman atau kampung Empawek yang pertama atau saat pendirian kampung ini berlokasi di daerah yang disebut Mpowia, karena tidak aman disebabkan adanya perang antar suku atau antar kampung. Kemudian masyarakat ini pindah ke jalan simpang Amang saat ini dan mendirikan rumah betang. Ketika penduduk bertambah dan rumah betang tidak mencukupi maka, kampung pindah ke tepi jalan raya sekarang (dusun Empawek saat ini ). Sekitar tahun 1960-an, kampung Empawek ini menjadi desa gaya lama dan setelah itu ketika re-grouping desa, sehingga menjadi bagian dari desa Palem Jaya.
Menariknya, nama “Palem Jaya” sendiri merupakan singkatan dari kelima dusun ini: Pejugan-Amang-Layau-Empawek-Mundun. Persatuan kelima dusun ini membentuk satu desa yang kokoh.